Featured

Kencur atau cikur (Kaempferia galanga)

Tanaman kencur ini mampu menghilangkan rasa cemas, stress dan juga depresi yang berlebihan. Tanaman kencur menjadi salah satu tanaman yang mudah untuk membudidayakan tanaman kencur. Tanaman yang sangat bermanfaat bagi tubuh manusia mampu dijadikan sebagai alat untuk itu tanaman ini juga herbal dalam mengatasinya. Nah seperti apa yang sudah dijudulkan, dimana kami disini akan membahas secara lengkap mengenai klasifikasi dan diserta dengan warna. Apa saja yang menjadi klasifikasin dan juga morfologi dari tanama. Buaya? Dibawah inilah yang menjadi klasifikasi dan morfologi yang terlengkap. Apa saja yang menjadi klasifikasi dan morfologinya?   Langsung saja disimak pembahasan yang ada dibawah ini. Baca Juga : Cara Budidaya Tanaman Kencur Klasifikasi Tanaman Kencur Tanaman kencur memiliki bahasa latin yakni Kaempferia Galanga beserta dengan klasifikasinya. Seperti apa klasifikasi dari tanaman kencur ini? Langsung saja disimak ulasan yang telah tertulis dibawah ini. Kingdom : Planta...

Mengenali Beragam Cara Penularan HIV



HIV dan AIDS sebenarnya merupakan dua kondisi berbeda. HIV adalah jenis virus yang menyebabkan infeksi dan melemahkan sistem imun. Sementara AIDS adalah kumpulan penyakit yang muncul sebagai perwujudan dari stadium akhir HIV. Artinya, kondisi yang bisa ditularkan dari satu orang ke orang lain adalah infeksi HIV-nya dan bukan AIDS itu sendiri.
Pada dasarnya, HIV dapat ditularkan melalui cairan tubuh, termasuk darah, air mani, cairan vagina, dan air susu ibu yang terinfeksi HIV. Siapapun dari segala usia, ras, maupun jenis kelamin bisa terinfeksi HIV, termasuk bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi HIV.

Cairan tersebut haruslah masuk ke dalam tubuh orang yang sehat lewat luka terbuka di kulit, selaput lendir (seperti dinding vagina, sariawan terbuka di bibir, luka pada gusi atau lidah), jaringan tubuh yang rusak (seperti luka lecet pada anus), atau disuntikkan langsung ke dalam aliran darah (dari jarum biasa atau jarum suntik).
Beberapa metode penularan HIV yang dapat terjadi adalah sebagai berikut:
  • Hubungan seks
    Penularan dengan melakukan hubungan seksual dapat terjadi dari pria ke wanita atau sebaliknya, serta pada sesama jenis kelamin melalui hubungan seksual yang berisiko. Penularan HIV dapat terjadi saat hubungan seks melalui vagina, anal, maupun seks oral dengan pasangan yang terinfeksi HIV. Salah satu cara terbaik untuk mencegah penularan HIV adalah menggunakan kondom saat berhubungan seks dan tidak berganti-ganti pasangan seksual.
  • Penggunaan jarum suntik
    HIV dapat ditularkan melalui jarum suntik yang terkontaminasi dengan darah yang terinfeksi. Berbagi pakai jarum suntik atau menggunakan jarum suntik bekas, membuat seseorang memiliki risiko sangat tinggi tertular penyakit, termasuk HIV.
  • Selama kehamilan, persalinan atau menyusui
    Seorang ibu yang terinfeksi HIV dan mengandung atau menyusui berisiko tinggi untuk menularkan HIV kepada bayinya. Penting untuk berkonsultasi dengan dokter agar dapat dilakukan pemeriksaan dan pengobatan HIV selama kehamilan, guna menurunkan risiko penularan HIV pada bayi.
  • Transfusi Darah
    Dalam sebagian kasus, penularan HIV juga bisa disebabkan oleh transfusi darah. Namun, kejadian ini semakin jarang terjadi karena kini diterapkan uji kelayakan donor, termasuk donor darah, organ ataupun donor jaringan tubuh. Dengan pengujian yang layak, penerima donor darah memiliki risiko yang rendah untuk terinfeksi HIV.
HIV tidak dapat bereproduksi dalam inang selain manusia, dan tidak mampu bertahan di luar tubuh manusia dalam waktu yang lama.

Maka,  
Penularan HIV tidak akan mungkin terjadi lewat cara berikut:
  • Gigitan hewan, seperti gigitan nyamuk, kutu, atau serangga lainnya
  • Interaksi fisik antarmanusia yang tidak melibatkan pertukaran cairan tubuh, misalnya:
    • bersentuhan dan berpelukan
    • berjabat atau berpegangan tangan
    • tidur bersama di satu ranjang tanpa melakukan aktivitas seksual
    • cipika-cipiki
  • Berbagi alat makan dan saling pinjam pakaian atau handuk dengan pengidap HIV
  • Menggunakan kamar mandi/toilet yang sama
  • Berenang di kolam renang umum bersama pengidap HIV
  • Air liur, air mata, atau keringat yang tidak bercampur dengan darah dari orang yang positif HIV
  • Aktivitas seksual lainnya yang tidak melibatkan pertukaran cairan tubuh, misalnya, ciuman bibir atau petting (menggesekkan alat kelamin) dengan masih saling berpakaian lengkap.

Upaya Mencegah Penularan HIV

Sampai saat ini belum ada obat ataupun vaksin untuk mencegah dan menyembuhkan infeksi HIV/AIDS.  Bagi Anda yang menderita infeksi HIV, ada upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalikan infeksi tersebut, yaitu mengonsumsi obat antiretroviral sesuai dosis yang disarankan dokter.

Obat tersebut akan membantu menekan aktivitas virus dalam tubuh, sehinggu penderita HIV mampu hidup lebih sehat dengan harapan hidup lebih panjang dan memperkecil risiko menularkan HIV pada pasangan.
Yang tidak kalah penting adalah mencegah penularan HIV sejak awal. Pencegahan dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain:
  • Gunakan kondom setiap kali berhubungan seks
    Jika Anda tidak mengetahui status HIV pasangan Anda, gunakan kondom setiap kali Anda melakukan hubungan seks vaginal, anal maupun oral. Untuk wanita, bisa menggunakan kondom wanita.
  • Hindari perilaku seksual yang berisiko
    Seks anal adalah aktivitas seks yang memiliki risiko tertinggi dalam penularan HIV. Baik pelaku maupun penerima seks anal berisiko untuk tertular HIV, namun penerima seks anal memiliki risiko tertular lebih tinggi. Karena itu disarankan untuk melakukan hubungan seks yang aman, serta gunakan kondom untuk mencegah penularan HIV.
  • Hindari penggunaan jarum bekas
    Hindari penggunaan jarum bekas saat menyuntikkan obat. Penularan HIV melalui tato dan tindik juga berisiko terjadi jika memakai jarum tato yang tidak disterilisasi dengan baik atau menggunakan tinta tato yang terkontaminasi. Sebelum melakukan tato atau tindik, pastikan jarum steril.
  • Pre-exposure prophylaxis (PrEP)
    PrEP merupakan metode pencegahan HIV dengan cara mengonsumsi antiretroviral bagi mereka yang berisiko tinggi tertular HIV, yaitu mereka yang memiliki lebih dari satu pasangan seksual, memiliki pasangan dengan HIV positif, menggunakan jarum suntik yang berisiko dalam 6 bulan terakhir, atau mereka yang sering berhubungan seksual tanpa pengaman.
Selain cara penularan yang umum, ada juga cara penularan yang tidak lazim seperti :

1. Seks oral

Meski rendah risiko penularan HIV masih tetap ada, terutama jikaejakulasi di dalam mulut dan tidak menggunakan kondom atau pelindung mulut lain (seperti dental dam/kondom wanita).
Penularan HIV dapat terjadi saat Anda merangsang kelamin pasangan dengan lidah atau mengulum kelamin pasangan yang terinfeksi HIV, sementara mulut Anda terdapat luka atau sariawan terbuka.
Bagaimana dengan ciuman? Jika ciuman hanya terjadi pertukaran liur saja, virus HIV tidak akan menyebar kecuali ada luka atau kontak darah. Maka apabila bibir atau lidah Anda tak sengaja tergigit oleh pasangan selama berciuman, luka baru itu dapat menjadi gerbang masuk bagi virus HIV dalam liur pasangan untuk masuk ke dalam tubuh Anda.

2. Donor darah dan cangkok organ

Penularan HIV yang paling umum adalah melalui darah. Transfusi darah langsung dari donor darah yang terinfeksi memiliki probabilitas tertinggi untuk menularkan HIV.
Pun demikian, cara penularan HIV melalui donor darah dan cangkok organ termasuk kurang umum. Sejak 1985 prosedur transfusi dan cangkok organ sudah diperketat maka, produk transfusi yang Anda akan terima sebenarnya aman.  Jika ada satu saja donasi yang terlambat diketahui positif, darah akan langsung dibuang sementara organ calon pencangkokan juga tidak akan dipakai.
Sayangnya, beberapa negara berkembang mungkin tidak memiliki teknologi atau peralatan terkait untuk menguji semua darah dan mencegah penularan HIV/AIDS. Jadi mungkin ada beberapa sampel sumbangan produk darah yang telah diterima ternyata mengandung HIV. namun, kejadian ini terhitung langka.

3. Digigit oleh orang dengan HIV

Menurut sebuah penelitian tahun 2011 dari jurnal AIDS Research and Therapy, ada kemungkinan biologis yang menyatakan gigitan sesama manusia dapat menjadi cara penularan HIV yang tak terduga.
Seperti yang telah dipaparkan di atas, air liur sebetulnya memiliki jumlah viral load yang lebih sedikit dibanding darah. Air liur selama ini diteliti kurang efektif sebagai perantara pembawa virus HIV karena punya sifat penghambat virus.
Namun kasus yang diteliti dalam jurnal tersebut terbilang unik. Diceritakan bahwa jari tangan seorang pria sehat non-HIV yang memiliki diabetes digigit oleh anak angkatnya yang positif HIV. Jari tangan bapak pria tersebut digigit cukup keras dan dalam sehingga sampai berdarah di dalam kukunya.
Beberapa waktu setelah digigit, pria tersebut dinyatakan positif HIV dan terdeteksi memiliki viral load tinggi setelah mengalami demam tinggi dan berbagai infeksi.
Para ahli setuju bahwa penularan HIV pada dasarnya hanya bisa terjadi apabila mulut penderita HIV terdapat luka atau sariawan dan penerima gigitan mengalami luka sampai berdarah juga. Namun setelah anak yang memiliki HIV tersebut diperiksa, diketahui bahwa kondisi mulutnya baik; tidak adanya luka, goresan, atau masalah infeksi apa pun. Luka pada kuku si ayah juga tidak sampai keluar darah merah segar.
Para dokter dan peneliti pada akhirnya menyimpulkan sementara bahwa air liur bisa menjadi media penularan HIV, meski belum yakin benar bagaimana mekanisme pastinya. Diperlukan penelitian dan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan cara penularan HIV yang satu ini.

4. Pakai mainan seks (sex toys)

Penetrasi seks, entah itu lewat vaginal (penis ke vagina), oral (alat kelamin dan mulut), atau anal (penis ke dubur) dengan pasangan yang mengidap HIV bisa membuat Anda tertular AIDS.
Tidak hanya lewat kelamin ke kelamin secara langsung. Penggunaan benda atau mainan seks, juga bisa menjadi cara penularan HIV yang mungkin terjadi. Apalagi jika mainan seks yang Anda pakai tidak dilapisi pelindung.
Penularan virus HIV dan AIDS dari satu orang ke yang lainnya sering terjadi ketika mainan seks dipakai bergantian. Bila Anda atau pasangan Anda mengidap HIV, jangan menggunakan mainan seks secara bergantian dalam satu sesi bercinta.
Virus HIV memang umumnya tidak bisa hidup lama-lama di permukaan benda mati. Namun, mainan seks yang masih basah oleh sperma, darah, atau cairan vagina mungkin saja menjadi perantara virus untuk berpindah ke pasangan.

5. Melakukan piercing, sulam alis, tato alis, sulam bibir

Sebenarnya melakukan sulam alis, tato alis, dan sulam bibir cukup aman untuk kesehatan. Tapi tren kecantikan yang sedang naik daun ini dapat menjadi cara penularan HIV dan AIDS  jika dilakukan oleh pegawai yang tidak berpengalaman atau berlisensi, juga yang tidak menggunakan peralatan steril. Pasalnya, prosedur sulam atau tato wajah ini melibatkan pengirisan kulit terbuka.
Untuk mencegah penularan HIV ini, sebelum Anda duduk dan disulam alis atau bibirnya, pastikan bahwa semua peralatan yang digunakannya steril. Khususnya, pastikan bahwa mata pisau bedah jarum yang digunakan adalah yang sekali pakai.
Minta petugas untuk membuka segel jarum baru di depan Anda sebelum memulai prosedur, dan minta ia langsung membuangnya di tempat sampah begitu selesai. Kewaspadaan seperti ini penting untuk menghindari cara penularan HIV melalui darah.

6. Bekerja di rumah sakit

Selain pada pengguna narkoba yang berbagi jarum suntik secara sengaja, risiko penularan HIV juga termasuk tinggi pada tenaga kesehatan medis, seperti dokter, perawat, petugas laboratorium, hingga petugas pembersih limbah fasilitas kesehatan lewat perantara alat medis.

Darah dari pasien yang positif HIV dapat berpindah kepada petugas kesehatan jika mereka memiliki luka terbuka yang terekspos (tidak terlindungi oleh pakaian) dan kemudian mengambil darah pasien yang positif HIV. Maka bukan tidak mungkin jarum suntik atau benda tajam lainnya dapat menjadi perantara dan mentransfer HIV.
HIV juga dapat ditularkan ke petugas kesehatan lewat cara berikut:
  • Jika jarum suntik yang telah dipakai oleh pasien positif HIV tidak sengaja tertancap ke petugas kesehatan (disebut juga needle-stick injury)
  • Jika darah yang terkontaminasi HIV mengenai membran mukosa seperti misalnya mata, hidung, dan mulut.
  • Lewat peralatan kesehatan lain yang digunakan berbarengan tanpa disterilkan.
Namun begitu, peluang penularan HIV di antara petugas medis di fasilitas kesehatan melalui jarum suntik bekas tergolong kecil, kurang dari satu persen. Ini karena semua fasilitas kesehatan, dari yang paling kecil maupun skala internasional memiliki protokol keamanan yang sudah terstandarisasi.
Risiko penularan HIV pada petugas layanan kesehatan termasuk sangat rendah terutama karena mereka selalu memakai alat pelindung diri (seperti masker, scrub/jubah rumah sakit, penutup kepala, kacamata khusus, hingga sarung tangan) dengan lengkap dan benar ketika bertugas.
Mereka juga selalu diwanti-wanti untuk berhati-hati dalam menangani benda-benda tajam dan bekas darah yang berceceran.

Penularan melalui jeazah

Dari  berbagai teori di atas belum terungkap gamblang apakah jenazah termasuk inang yang baik untuk HIV, mengingat teori yang diungkapkan rata-rata pada aktifitas manusia hidup. Namun mengingat cairan tubuh dapat menularkan melalui luka (yang juga tidak disebutkan baru atau lama) maka untuk petugas pemularsaraan jenazah terduga HIV terutama dengan load tinggi lebih baik menggunakan alat pengaman tambahan, seperti sarung tangan karet, dan pakaian kedap cairan.

Memandikan jenazah biasanya meliputi kebersihan di seputar alat kelamin, anus, muka atau mulut. Beberapa jenazah dapat saja terus mengeluarkan cairan dari organ-organ tersebut. Jelazah yang mengandung luka juga dapat terus mengeluarkan darah dari lukanya.

Jenasah dengan dugaan HIV sebaiknya ditangani oleh tenaga medis terlatih yang mampu meminimalisir resiko menular.

Comments