Featured

Kencur atau cikur (Kaempferia galanga)

Tanaman kencur ini mampu menghilangkan rasa cemas, stress dan juga depresi yang berlebihan. Tanaman kencur menjadi salah satu tanaman yang mudah untuk membudidayakan tanaman kencur. Tanaman yang sangat bermanfaat bagi tubuh manusia mampu dijadikan sebagai alat untuk itu tanaman ini juga herbal dalam mengatasinya. Nah seperti apa yang sudah dijudulkan, dimana kami disini akan membahas secara lengkap mengenai klasifikasi dan diserta dengan warna. Apa saja yang menjadi klasifikasin dan juga morfologi dari tanama. Buaya? Dibawah inilah yang menjadi klasifikasi dan morfologi yang terlengkap. Apa saja yang menjadi klasifikasi dan morfologinya?   Langsung saja disimak pembahasan yang ada dibawah ini. Baca Juga : Cara Budidaya Tanaman Kencur Klasifikasi Tanaman Kencur Tanaman kencur memiliki bahasa latin yakni Kaempferia Galanga beserta dengan klasifikasinya. Seperti apa klasifikasi dari tanaman kencur ini? Langsung saja disimak ulasan yang telah tertulis dibawah ini. Kingdom : Planta...

Tantangan "Mendidik" Anak-anak Baby G

Foto Milik Tribunnews.com

"Gak mau, gak enak"
Begitu sering anak-anak kalau disuruh makan di rumah. Jika kita turuti, kelak anak kita bakal tidak doyan sayur. Atau kalaupun ada perubahan selera, masa gizi nabatinya dapat terlambat karena mungkin itu terjadi di usia yang sudah cukup dewasa.

Saya kadang kesal jika sudah memasak dengan susah-payah, memilihkan bahan berkualitas, dari pengolahan sampai matang saya lakukan dengan hati-hati dan proses yang cukup melelahkan, namun akhirnya hanya terbuang percuma karena tidak sesuai selera anak-anak.

Hal serupa saya rasakan dalam kehidupan keseharian saya sebagai seorang guru. Sebenarnya saya bukan benar-benar guru karena saya hanya mengajar mata pelajaran muatan lokal keahlian tanpa sertifikat keguruan. Saya seorang teknokrat yang lebih tertarik pada dunia pendidikan.

Pada awal mengajar saya berusaha menyesuaikan diri dengan dunia pendidikan. Dari mengintip cara mengajar teman-teman saya yang sebagian besar sudah senior dan berpengalaman, sampai mencotek administrasi yang mereka persiapkan.

Bagi seorang teknokrat, pekerjaan itu sederhana. Rencanakan sebuah proyek, hitung anggaran, eksekusi lalu hitung untung atau rugi. Konsumen tidak berselera, tawarkan kepada yang lebih berpotensi. Sangat berbeda dengan dunia pendidikan. Saya menggarap anak manusia. Meski saya banyak belajar psikologi pendidikan saat  membesarkan anak-anak, namun saya tidak dibimbing oleh ahli. Semua hanya berdasar buku dan contoh-contoh dari internet, tentu hasilnya agak berbeda jika ada pembimbing yang berpengalaman.

Saya bertarung mati-matian baik dengan diri sendiri, istri, dan anak-anak dalam menemukan arah pendidikan bagi buah hati saya. Saya bertengkar, saling mendiamkan, sampai suatu titik dapat cair sendiri. Proses pendidikan 2 anak saya "sangat keras" sampai mereka mendapat pencapaian seperti saat ini.

Proses yang kami jalani cukup menyakitkan. Namun saya tidak banyak mengubah cara mendidik untuk menyesuaikan kemauan mereka. Kebenaran adalah kebenaran, seperti yang telah berabad-abad berjalan. Saya tidak suka "mudah" mengikuti arus ilmuwan modern tanpa pertimbangan yang matang.

Generasi Protes

Protes, sebenarnya tidak ada yang salah. Sepajang disampaikan dengan baik, pemilihan kata yang tepat, tanpa menampilkan emosi yang berlebih, protes adalah sebuah proses pengerucutan persepsi menjadi sedekat mungkin diantara pihak.

Namun seperti kita semua sadari, saat kita terbentur sebuah persoalan, yang pertama terjadi adalah meledaknya emosi. Demikianpun yang sering saya alami. 

Harapan orang tua kepada pendidik di jaman ini adalah pendidikan yang nyaman, tanpa emosi dan menghasilkan generasi emas. Namun bagi saya harapan demikan hanya ada di dunia mimpi.

memang saya sendiri belum pernah berdiskusi dengan ahli yang pernah meneliti, dimana seorang anak tahu rasanya sakit hanya dengan diberitahu bahwa kalau dipukul itu sakit. Atau bagaimana rasanya kelaparan sementara setiap kali anak bilang "ma lapar" tidak lebih hitungan menit makanan sudah tersaji.

Pendidikan modern selalu mengacu kepada dunia barat, dimana aturan atau undang-undang merupakan "Tuhan" dalam bernegara. Pendidikan modern konon diklaim akan menghasilkan manusia yang sopan, lemah lembut tanpa kekerasan. Tidak diskriminatif dan penuh toleransi. 

Namun jika kita benar-benar membuka mata dan telinga, dunia dimana pendidikan modern menjadi sebuah kurikulum wajib, tingkat kejahatan, penggunaan narkoba, pembunuhan bahkan yang dilakukan oleh teman sekolah atau murid kepada guru merupakan berita "biasa".

Dalam pengalaman pribadi saya, justru pendidikan modern lebih banyak menghasilkan anak-anak yang lemah mental. Mereka tidak tahan terhadap berturan. Tidak dapat menerima perbedaan karena memang perbedaan tidak pernah muncul dan menjadi bahan uji kedewasaan selama pendidikan.

Kasus bunuh diri di beberapa negara penganut pendidikan modern mengalahkan jumlah lansia sakit berkepanjangan yang memilih mati di gunung kidul saat ini.

Generasi yang dimanjakan dengan "jangan ada PR", "Repot kalau tugas kelompok", "Capek! Les di luar sudah penuh" dan lain sebagainya alasan orang tua, telah mendegradasi esensi pendidikan itu sendiri.

Pendidikan bukan belajar. Mendidik bukan mengajari. 


Anak boleh belajar apapun dimanapun, namun jika orang tua sudah memilih lembaga pendidikan, maka menyesuaikan dengan visi dan misi sekolah adalah sebuah keniscayaan. Untuk itu jangan sekedar bernafsu menyekolahkan anak-anak di sekolah "Favourite" jika belum paham benar arah dan tujuan sekolah tersebut.

Sering anak-anak yang lulus dari sebuah sekolah dasar dengan nilai yang sangat bagus, namun mengalami stress di sekolah lanjutan favorit orang tuanya. 

Banyak sekolah dasar yang anak-anaknya bernilai bagus karena di ekspose soal-soal ujian di sekolah, dan tanpa PR mereka dapat les di luar sekolah. Anak-anak demikian biasanya menjadi kendor semangat belajar di sekolah. Apalagi jika di luar sekolah mereka sering mendapatkan penghargaan.

Jiwa anak yang masih polos sering mendudukan diri bahwa mereka superior, belum dapat membedakan kontek pertarungan yang mereka alami. Saat merasa tidak cocok dengan cara belajar di sekolah, mereka akan "nglepeh" (menolak) dengan berbagai cara. Cara yang paling sering saya amati adalah mereka membuat cerita yang bertentangan dengan situasi sebenarnya.

"Belum pernah diajarkan", adalah kalimat yang cukup umum dari protes orang tua yang sering saya terima. Protes yang palin populer adalah, pelajarannya terlalu sulit, tidak cocok dengan anak seusianya.

Saya kadang juga bingung. Bagi saya yang sudah setua ini, sejak muda belajar gitar dan piano tidak pernah berhasil. Bisa jadi karena kemiskinan saya yang tidak bisa les resmi, atau bisa jadi memang saya tidak berbakat. Tetapi anak-anak yang mengatakan pelajaran terlalu sulit, mereka mampu mendapatkan berbagai penghargaan saat tempat les mengirim mereka ke lomba-lomba bertaraf internasional.

Akhir Kata

Sampai hari ini saya pantas bersyukur karena anak pertama saya adalah salah satu peserta beasiswa Putera Sampoerna Foundation yang mendapatkan kesempatan menjalani sekolah laboratorium Fast Track dengan menempuh pendidikan SMA sampai S1 double graduate hanya 5 tahun. Saat uneg-uneg ini saya tulis, dia sudah menjalani semester ke 5 Industrial engineering di Sampoerna University, saat teman-teman seangkatannya sedang menyesuaikan diri dengan sistim peekuliahan di semester 1. 

Hasil pendidikan "keras" saya mampu membuat anak saya yang biasa-biasa saja, mampu bersaing dengan anak-anak cerdas tanpa mengalami tekanan yang berarti. Mampu melampaui ekspektasi yang kami orang-tuanya bahkan tidak mungkin memimpikannya.

Berusaha mati-matian sendirian tidak membuatnya patah semangat untuk menjadi yang terbaik diantara yang baik.

Semoga pengalaman yang dialaminya saat ini memberikan inspirasi dalam wujud yang berbeda-beda bagi adik-adiknya.

Jangan sampai dalam pendidikan anak protes "Gak mau, gak enak", sebab kelak saat bertarung di kehidupan dewasa, tidak ada yang namanya "kerja enak".


Comments