 |
| Foto Milik Tribunnews.com |
"Gak mau, gak enak"
Begitu
sering anak-anak kalau disuruh makan di rumah. Jika kita turuti, kelak
anak kita bakal tidak doyan sayur. Atau kalaupun ada perubahan selera,
masa gizi nabatinya dapat terlambat karena mungkin itu terjadi di usia
yang sudah cukup dewasa.
Saya
kadang kesal jika sudah memasak dengan susah-payah, memilihkan bahan
berkualitas, dari pengolahan sampai matang saya lakukan dengan hati-hati
dan proses yang cukup melelahkan, namun akhirnya hanya terbuang percuma
karena tidak sesuai selera anak-anak.
Hal
serupa saya rasakan dalam kehidupan keseharian saya sebagai seorang
guru. Sebenarnya saya bukan benar-benar guru karena saya hanya mengajar
mata pelajaran muatan lokal keahlian tanpa sertifikat keguruan. Saya
seorang teknokrat yang lebih tertarik pada dunia pendidikan.
Pada
awal mengajar saya berusaha menyesuaikan diri dengan dunia pendidikan.
Dari mengintip cara mengajar teman-teman saya yang sebagian besar sudah
senior dan berpengalaman, sampai mencotek administrasi yang mereka
persiapkan.
Bagi
seorang teknokrat, pekerjaan itu sederhana. Rencanakan sebuah proyek,
hitung anggaran, eksekusi lalu hitung untung atau rugi. Konsumen tidak
berselera, tawarkan kepada yang lebih berpotensi. Sangat berbeda dengan
dunia pendidikan. Saya menggarap anak manusia. Meski saya banyak belajar
psikologi pendidikan saat membesarkan anak-anak, namun saya tidak dibimbing
oleh ahli. Semua hanya berdasar buku dan contoh-contoh dari internet, tentu hasilnya agak berbeda jika ada pembimbing yang berpengalaman.
Saya
bertarung mati-matian baik dengan diri sendiri, istri, dan anak-anak
dalam menemukan arah pendidikan bagi buah hati saya. Saya bertengkar,
saling mendiamkan, sampai suatu titik dapat cair sendiri. Proses
pendidikan 2 anak saya "sangat keras" sampai mereka mendapat pencapaian
seperti saat ini.
Proses
yang kami jalani cukup menyakitkan. Namun saya tidak banyak mengubah
cara mendidik untuk menyesuaikan kemauan mereka. Kebenaran adalah
kebenaran, seperti yang telah berabad-abad berjalan. Saya tidak suka
"mudah" mengikuti arus ilmuwan modern tanpa pertimbangan yang matang.
Generasi Protes
Protes,
sebenarnya tidak ada yang salah. Sepajang disampaikan dengan baik,
pemilihan kata yang tepat, tanpa menampilkan emosi yang berlebih, protes
adalah sebuah proses pengerucutan persepsi menjadi sedekat mungkin
diantara pihak.
Namun
seperti kita semua sadari, saat kita terbentur sebuah persoalan, yang
pertama terjadi adalah meledaknya emosi. Demikianpun yang sering saya
alami.
Harapan
orang tua kepada pendidik di jaman ini adalah pendidikan yang nyaman,
tanpa emosi dan menghasilkan generasi emas. Namun bagi saya harapan
demikan hanya ada di dunia mimpi.
memang
saya sendiri belum pernah berdiskusi dengan ahli yang pernah meneliti,
dimana seorang anak tahu rasanya sakit hanya dengan diberitahu bahwa
kalau dipukul itu sakit. Atau bagaimana rasanya kelaparan sementara
setiap kali anak bilang "ma lapar" tidak lebih hitungan menit makanan
sudah tersaji.
Pendidikan
modern selalu mengacu kepada dunia barat, dimana aturan atau
undang-undang merupakan "Tuhan" dalam bernegara. Pendidikan modern konon
diklaim akan menghasilkan manusia yang sopan, lemah lembut tanpa
kekerasan. Tidak diskriminatif dan penuh toleransi.
Namun
jika kita benar-benar membuka mata dan telinga, dunia dimana pendidikan
modern menjadi sebuah kurikulum wajib, tingkat kejahatan, penggunaan
narkoba, pembunuhan bahkan yang dilakukan oleh teman sekolah atau murid
kepada guru merupakan berita "biasa".
Dalam
pengalaman pribadi saya, justru pendidikan modern lebih banyak
menghasilkan anak-anak yang lemah mental. Mereka tidak tahan terhadap
berturan. Tidak dapat menerima perbedaan karena memang perbedaan tidak
pernah muncul dan menjadi bahan uji kedewasaan selama pendidikan.
Kasus
bunuh diri di beberapa negara penganut pendidikan modern mengalahkan
jumlah lansia sakit berkepanjangan yang memilih mati di gunung kidul
saat ini.
Generasi
yang dimanjakan dengan "jangan ada PR", "Repot kalau tugas kelompok",
"Capek! Les di luar sudah penuh" dan lain sebagainya alasan orang tua,
telah mendegradasi esensi pendidikan itu sendiri.
Pendidikan bukan belajar. Mendidik bukan mengajari.
Anak
boleh belajar apapun dimanapun, namun jika orang tua sudah memilih
lembaga pendidikan, maka menyesuaikan dengan visi dan misi sekolah
adalah sebuah keniscayaan. Untuk itu jangan sekedar bernafsu
menyekolahkan anak-anak di sekolah "Favourite" jika belum paham benar
arah dan tujuan sekolah tersebut.
Sering
anak-anak yang lulus dari sebuah sekolah dasar dengan nilai yang
sangat bagus, namun mengalami stress di sekolah lanjutan favorit orang
tuanya.
Banyak
sekolah dasar yang anak-anaknya bernilai bagus karena di ekspose
soal-soal ujian di sekolah, dan tanpa PR mereka dapat les di luar
sekolah. Anak-anak demikian biasanya menjadi kendor semangat belajar di
sekolah. Apalagi jika di luar sekolah mereka sering mendapatkan
penghargaan.
Jiwa
anak yang masih polos sering mendudukan diri bahwa mereka superior,
belum dapat membedakan kontek pertarungan yang mereka alami. Saat merasa
tidak cocok dengan cara belajar di sekolah, mereka akan "nglepeh"
(menolak) dengan berbagai cara. Cara yang paling sering saya amati
adalah mereka membuat cerita yang bertentangan dengan situasi
sebenarnya.
"Belum
pernah diajarkan", adalah kalimat yang cukup umum dari protes orang tua
yang sering saya terima. Protes yang palin populer adalah, pelajarannya
terlalu sulit, tidak cocok dengan anak seusianya.
Saya
kadang juga bingung. Bagi saya yang sudah setua ini, sejak muda belajar
gitar dan piano tidak pernah berhasil. Bisa jadi karena kemiskinan saya
yang tidak bisa les resmi, atau bisa jadi memang saya tidak berbakat.
Tetapi anak-anak yang mengatakan pelajaran terlalu sulit, mereka mampu
mendapatkan berbagai penghargaan saat tempat les mengirim mereka ke
lomba-lomba bertaraf internasional.
Akhir Kata
Sampai hari ini saya pantas bersyukur karena anak pertama saya adalah salah satu peserta beasiswa
Putera Sampoerna Foundation yang mendapatkan kesempatan menjalani sekolah laboratorium
Fast Track dengan menempuh pendidikan SMA sampai S1
double graduate hanya 5 tahun. Saat uneg-uneg ini saya tulis, dia sudah menjalani semester ke 5 Industrial engineering di
Sampoerna University, saat teman-teman seangkatannya sedang menyesuaikan diri dengan sistim peekuliahan di semester 1.
Hasil
pendidikan "keras" saya mampu membuat anak saya yang biasa-biasa saja,
mampu bersaing dengan anak-anak cerdas tanpa mengalami tekanan yang
berarti. Mampu melampaui
ekspektasi yang kami orang-tuanya bahkan tidak
mungkin memimpikannya.
Berusaha mati-matian sendirian tidak membuatnya patah semangat untuk menjadi yang terbaik diantara yang baik.
Semoga pengalaman yang dialaminya saat ini memberikan inspirasi dalam wujud yang berbeda-beda bagi adik-adiknya.
Jangan sampai dalam pendidikan anak protes "Gak mau, gak enak", sebab kelak saat bertarung di kehidupan dewasa, tidak ada yang namanya "kerja enak".
Comments
Post a Comment