Pada
kurikulum pendidikan modern yang menganut sistim psikologi modern,
memarahi anak merupakan salah satu tabu yang paling ditekankan. Berkata
tidak atau jangan saja dalam pendidikan modern sangat dilarang. Konon
kosa kata-kosa kata tersebut dapat menurunkan mental anak, mematikan
daya kreatifitas serta intelektualitas.
Menurut
psikologi pendidikan modern, takut dimarahi dengan kata jangan
menjadikan mental anak menjadi down, rendah diri sehingga anak takut
untuk mencoba dan berkembang. Maka daya pikir dan keinginan untuk
mencoba tidak ada.
Banyak
sekolah saat ini menerapkan sistim pendidikan modern demi memenuhi
hasrat orang tua, atau dengan kata lain sekolah tidak mau kehilanagan
pangsa pasar karena kekurangan murid. Kekurangan murid tentu saja akan
berimbas kepada pembiayaan yang dibutuhkan untuk pengembangan
pendidikan.
Namun benarkah dengan tidak memarahi dan berdiat frasa "jangan" dapat menjadikan anak lebih cerdas dan kreatif?
Anak Manja vs Anak Nakal
Anak-anak
sekolah produk "Jaman Belanda " rata-rata dididik dengan tingkat
kedisiplinan yang keras. Anak-anak jaman belanda ini secara turun
temurun mempraktekkan "cara Belanda" dalam mendidik generasi penerusnya.
Beberapa anak yang dididik dengan kedisiplinan yang tinggi sering
mengekspresikan kebebasannya dengan menlakukan hal-hal yang bebas semau
gue, atau cenderung menabrak aturan. Sebagian besar yang lain bekerja
dalam kesunyian tanpa banyak bicara.
Anak
dengan didikan ala Belanda sering dicap sebagai anak nakal karena
sering berjalan sendiri jika meyakini sebuah kebenaran. Memang tidak
banyak membantah atau menolak sebuah tanggung-jawab, namun jika pemberi
tanggung-jawab dirasa kurang sreg dengan kemauannya maka ia akan mencari
solusi sendiri secara diam-diam.
Pada
sistim pendidikan "jaman Belanda", kelas terasa lebih senyap dan kurang
hidup. Anak-anak hanya mendengarkan dan mengikuti paparan oleh
pembimbing. Tanya jawab diatur dengan ketat dan hanya diperkenankan jika
terjadi ketertinggalan informasi.
Pada
sistim pendidikan modern anak bebas mengungkapkan pendapat. Bahkan jika
topik yang diungkapkan tidak sesuai dengan alur, anak tidak boleh
disalahkan, tetapi sedikit demi sedikit diarahkan dan di beri
pengertian.
Dengan
jam pembelajaran yang terbatas dan luasnya ilmu yang harus disampaikan,
kecenderungan tidak fokus pada topik yang sering mendistorsi tujuan
utama dari pembelajaran, maka pendidikan modern sering tidak mencapai
seluruh kurikulum yang dicanangkan.
Pendidikan
modern membiarkan peserta didik menentukan sendiri kebenaran dengan
bimbingan. Kecenderungan kebenaran menjadi abu-abu lebih tinggi.
Yang Bersalah Harus Dihukum
Dalam
pendidikan modern, memarahi apalagi menghukum anak termasuk larangan
yang harus diaati oleh pembimbing maupun orang tua. Anak harus diberi
pengertian dengan kalimat halus berulang-ulang sampai anak dapat
memahami bahwa yang dilakukan tidak dimbenarkan oleh tatanan.
Sebagai
contoh, jika seorang anak naik ke meja pembimbing dilarang memakai kata
"Jangan naik ke meja" tetapi harus memberi pengertian bahwa fungsi meja
bukan sebagai tempat duduk, bukan tempat untuk berdiri.
Dalam
kehidupan nyata, peraturan pada dasarnya adalah hukum hitam putih.
Jikapun penerapan peraturan menjadi abu-abu, itu disebabkan
kecenderungan masyarakat yang permisif terhadap sebuah pelanggaran, atau
penyimpangan oleh penegaknya.
Jika
seorang melakukan kesalahan, maka kebenaran yang harus berjalan adalah
dia dihukum sesuai hukum yang berlaku. Misalnya seorang melanggar
lalu-lintas dan tertangkap petugas, maka hukum yang benar adalah dia
ditilang . Jika ada yang mencuri maka harus masuk bui sesuai dengan
hukum yang berlaku.
Mereka
yang menawar hukum biasanya juga dianggap orang yang menyimpang.
Menawar hukum sering dilakukan dengan menyuap jaksa, hakim, atau saksi
palsu. Atau bahkan melakukan tekanan kepada pihak-pihak yang berlawanan.
Bagi
masyarakat yang tidak memiliki pengaruh atau modal untuk melakukan
suap, tidak punya kekuatan untuk mengancam lawan, harus pasrah kepada
konsekuensi hukum yang harus diterima. Tidak ada pilihan abu-abu atau
nasihat-nasihat yang diberikan oleh penegak hukum secara terus menerus
sampai mau menerima bahwa dirinya salah.
Sebagai
contoh orang yang menabrak sampai korban mengalami celaka atau bahkan
meninggal, tentu tidak akan mendapat sekedar nasihat agar kelak tidak
mengulangi lagi. Hakim atau jaksa tidak akan memberi pengertian dengan
kalimat halus yang menyatakan pelaku bersalah dan harus minta maaf.
Konsekuensi logis dari peristiwa itu adalah dihukum sesuai peraturan
yang berlaku.
Hukuman
pasti menjadi tamparan yang memalukan bagi penerimanya. Namun hukuman
yang diberikan saat anak masih belajar bisa memberikan efek jera,
pelatihan penalaran terhadap kehidupan sosial, memilah baik buruk secara
transparan, dan dapat menjadi kendali kepada perilaku buruk setelah
dewasa.
Hukuman
tak selalu memberi efek jera jika terhukum telah menjadi pribadi
dewasa. Rasa tidak mau disalahkan tak mungkin dinasehatkan kepada orang
dewasa yang merasa benar. Orang dewasa tak akan ada waktu lagi untuk
bertobat dan memperbaiki diri kecuali dengan konsekuensi hukum sesuai
tatanan yang berlaku.
Memarahi
anak yang masih dalam tahap belajar lebih penting dari sekedar
menasehati dengan kata-kata yang kadang tidak dipahami maknanya oleh
anak.
Comments
Post a Comment