Featured

Kencur atau cikur (Kaempferia galanga)

Tanaman kencur ini mampu menghilangkan rasa cemas, stress dan juga depresi yang berlebihan. Tanaman kencur menjadi salah satu tanaman yang mudah untuk membudidayakan tanaman kencur. Tanaman yang sangat bermanfaat bagi tubuh manusia mampu dijadikan sebagai alat untuk itu tanaman ini juga herbal dalam mengatasinya. Nah seperti apa yang sudah dijudulkan, dimana kami disini akan membahas secara lengkap mengenai klasifikasi dan diserta dengan warna. Apa saja yang menjadi klasifikasin dan juga morfologi dari tanama. Buaya? Dibawah inilah yang menjadi klasifikasi dan morfologi yang terlengkap. Apa saja yang menjadi klasifikasi dan morfologinya?   Langsung saja disimak pembahasan yang ada dibawah ini. Baca Juga : Cara Budidaya Tanaman Kencur Klasifikasi Tanaman Kencur Tanaman kencur memiliki bahasa latin yakni Kaempferia Galanga beserta dengan klasifikasinya. Seperti apa klasifikasi dari tanaman kencur ini? Langsung saja disimak ulasan yang telah tertulis dibawah ini. Kingdom : Planta...

Memarahi Anak itu PENTING!!! Pendidikan Modern vs Pendidikan Konservatif






Pada kurikulum pendidikan modern yang menganut sistim psikologi modern, memarahi anak merupakan salah satu tabu yang paling ditekankan. Berkata tidak atau jangan saja dalam pendidikan modern sangat dilarang. Konon kosa kata-kosa kata tersebut dapat menurunkan mental anak, mematikan daya kreatifitas serta intelektualitas.

Menurut psikologi pendidikan modern, takut dimarahi dengan kata jangan menjadikan mental anak menjadi down, rendah diri sehingga anak takut untuk mencoba dan berkembang. Maka daya pikir dan keinginan untuk mencoba tidak ada.

Banyak sekolah saat ini menerapkan sistim pendidikan modern demi memenuhi hasrat orang tua, atau dengan kata lain sekolah tidak mau kehilanagan pangsa pasar karena kekurangan murid. Kekurangan murid tentu saja akan berimbas kepada pembiayaan yang dibutuhkan untuk pengembangan pendidikan.

Namun benarkah dengan tidak memarahi dan berdiat frasa "jangan" dapat menjadikan anak lebih cerdas dan kreatif?

 Anak Manja vs Anak Nakal

Anak-anak sekolah produk "Jaman Belanda " rata-rata dididik dengan tingkat kedisiplinan yang keras. Anak-anak jaman belanda ini secara turun temurun mempraktekkan "cara Belanda" dalam mendidik generasi penerusnya. Beberapa anak yang dididik dengan kedisiplinan yang tinggi sering mengekspresikan kebebasannya dengan menlakukan hal-hal yang bebas semau gue, atau cenderung menabrak aturan. Sebagian besar yang lain bekerja dalam kesunyian tanpa banyak bicara.

Anak dengan didikan ala Belanda sering dicap sebagai anak nakal karena sering berjalan sendiri jika meyakini sebuah kebenaran. Memang tidak banyak membantah atau menolak sebuah tanggung-jawab, namun jika pemberi tanggung-jawab dirasa kurang sreg dengan kemauannya maka ia akan mencari solusi sendiri secara diam-diam.

Pada sistim pendidikan "jaman Belanda", kelas terasa lebih senyap dan kurang hidup. Anak-anak hanya mendengarkan dan mengikuti paparan oleh pembimbing. Tanya jawab diatur dengan ketat dan hanya diperkenankan jika terjadi ketertinggalan informasi.

Pada sistim pendidikan modern anak bebas mengungkapkan pendapat. Bahkan jika topik yang diungkapkan tidak  sesuai dengan alur, anak tidak boleh disalahkan, tetapi sedikit demi sedikit diarahkan dan di beri pengertian.

Dengan jam pembelajaran yang terbatas dan luasnya ilmu yang harus disampaikan, kecenderungan tidak fokus pada topik yang sering mendistorsi tujuan utama dari pembelajaran, maka pendidikan modern sering tidak mencapai seluruh kurikulum yang dicanangkan. 

Pendidikan  modern membiarkan peserta didik menentukan sendiri kebenaran dengan bimbingan. Kecenderungan kebenaran menjadi abu-abu lebih tinggi.

Yang  Bersalah Harus Dihukum

Dalam pendidikan modern, memarahi apalagi menghukum anak termasuk larangan yang harus diaati oleh pembimbing maupun orang tua. Anak harus diberi pengertian dengan kalimat halus berulang-ulang sampai anak dapat memahami bahwa yang dilakukan tidak dimbenarkan oleh tatanan.

Sebagai contoh, jika seorang anak naik ke meja pembimbing dilarang memakai kata "Jangan naik ke meja" tetapi harus memberi pengertian bahwa fungsi meja bukan sebagai tempat duduk, bukan tempat untuk berdiri.
Dalam kehidupan nyata,  peraturan pada dasarnya adalah hukum hitam putih. Jikapun penerapan peraturan menjadi abu-abu, itu disebabkan kecenderungan masyarakat yang permisif terhadap sebuah pelanggaran, atau penyimpangan oleh penegaknya.

Jika seorang melakukan kesalahan, maka kebenaran yang harus berjalan adalah dia dihukum sesuai hukum yang berlaku. Misalnya seorang melanggar lalu-lintas dan tertangkap petugas, maka hukum yang benar adalah dia ditilang . Jika ada yang mencuri maka harus masuk bui sesuai dengan hukum yang berlaku.

Mereka yang menawar hukum biasanya juga dianggap orang yang menyimpang. Menawar hukum sering dilakukan dengan menyuap jaksa, hakim, atau saksi palsu. Atau bahkan melakukan tekanan kepada pihak-pihak yang berlawanan.

Bagi masyarakat yang tidak memiliki pengaruh atau modal untuk melakukan suap, tidak punya kekuatan untuk mengancam lawan, harus pasrah kepada konsekuensi hukum yang harus diterima. Tidak ada pilihan abu-abu atau nasihat-nasihat yang diberikan oleh penegak hukum secara terus menerus sampai mau menerima bahwa dirinya salah.

Sebagai contoh orang yang menabrak sampai korban mengalami celaka atau bahkan meninggal, tentu tidak akan mendapat sekedar nasihat agar kelak tidak mengulangi lagi. Hakim atau jaksa tidak akan memberi pengertian dengan kalimat halus yang menyatakan pelaku bersalah dan harus minta maaf. Konsekuensi logis dari peristiwa itu adalah dihukum sesuai peraturan yang berlaku.

Hukuman pasti menjadi tamparan yang memalukan bagi penerimanya. Namun hukuman yang diberikan saat anak masih belajar bisa memberikan efek jera, pelatihan penalaran terhadap kehidupan sosial, memilah baik buruk secara transparan, dan dapat menjadi kendali kepada perilaku buruk setelah dewasa.

Hukuman tak selalu memberi efek jera jika terhukum telah menjadi pribadi dewasa. Rasa tidak mau disalahkan tak mungkin dinasehatkan kepada orang dewasa yang merasa benar. Orang dewasa tak akan ada waktu lagi untuk bertobat dan memperbaiki diri kecuali dengan konsekuensi hukum sesuai tatanan yang berlaku.

Memarahi anak yang masih dalam tahap belajar lebih penting dari sekedar menasehati dengan kata-kata yang kadang tidak dipahami maknanya oleh anak.

Comments