Pola pikir setiap orang tua terhadap keberadaan anaknya tidak selalu sama. Ada orang tua yang menganggap anaknya sebagai aset, ada yang mengganggap sebagai investasi, ada juga yang menganggap anak sebagai titipan Ilahi. Tentu terserah anda mendudukan anak anda dihadapan anda, karena semua itu hanya pola pikir. Sepanjang anda tidak menekan kehidupannya dan mengkploitasi keberadaanya, bagi saya tidak ada salahnya.
Latar belakang kehidupan orang tua sangat mempengaruhi bagaimana anak dipandang dalam sebuah keluarga. Hal pokok yang harus kita lakukan adalah membawa anak kita mencapai cita-citanya tanpa memberikan trauma. "Keras dapat ditolerir". begitu kata menteri pendidikan Muhajir. sepanjang keras itu mendidik pasti tidak akan menimbulkan trauma. Menimbulkan kesan jelas. bahkan saat kita memanjakan anak kitapun akan menjadikan kesan yang mendalam, sehingga biasanya anak yang terlalu dimanja diluar porsi kebutuhannya akan cenderung memiliki pribadi egois dan tidak dapat menghargai sesamanya.
Saat anak berusia 0-12 tahun, banyak ahli menjadikan usia tersebut sebagai masa emas pertumbuhan apa saja yang dicontohkan oleh lingkungan, baik itu orang tua, keluarga, teman akan di telan mentah-mentah. Anda pasti sering memperhatikan saat anak balita anda sering memasukkan benda kedalam mulutnya untuk mengenal benda tersebut. Saat menginjak usia anak, bukan lagi benda dimasukkan ke dalam mulut, tetapi pengalaman masuk secara otomasti masuk ke dalam pola pikirnya dan membentuk kepribadiannya.
Memberi contoh adalah hal yang paling tepat dialkukan ketimbang nasihat-nasihat dengan bahasa tinggi yang sulit dicerna oleh pemikiran anak. Tentu sangat sulit memberikan contoh kepada anak karena orang tua jaman ini jarang berada dirumah. Perbedaan generasi membuat gap budaya yang membuat orang tua juga sulit memahami anak. Belajar terus mengenal jaman menjadi sangat penting bagi orang tua yang memiliki anak untuk dapat memahami jaman, sehingga dapat lebih mudah memberikan contoh bagi anaknya.
Semakin sulit mencari asisten rumah tangga berkualitas membuat rumah tangga dengan ekonomi tinggi kesulitan untuk mendidik anaknya sesuai dengan keinginan, sementara kedua orang tua sibuk bekerja sepanjang hari. Banyak terjadi anak dari keluarga mampu, tetapi memiliki pribadi labil karena kebingungan menghadapi hidupnya. Banyaknya harta yang dihadapi tidak diimbangi dengan kehadiran orang-tua yang dapat diajak berbagi. Waktu sempit yang disediakan oleh orang tua lebih banyak diisi dengan berdebat dan menyalahkan setiap kekurangan anak. Perilaku anak yang dianggap tidak sesuai dengan keinginan orang tua selalu berakhir dengan pertengkaran tanpa solusi yang berarti.
Seberat dan sesibuk apapun orang tua harus selalu memberikan waktu luang untuk anak. Daripada berdebat dan terus menyalahkan anak, lebih baik orang tua menahan diri untuk tidak berbicara kecuali anak meminta, dan mendengarkan dengan sabar apa yang diomongkan anak, niscaya anak akan lebih dekat dan percaya kepada keberadaan anda.
Comments
Post a Comment